Kamis, 09 Agustus 2012

Pak Tarno dan Sampahnya, Cerpen Osmaru Fisip 2012 tema Spekulatif

 
Pak Tarno dan Sampahnya


                  

               Pagi-pagi yang sangat dingin sudah bukan hal aneh bagi pak Tarno. hoosshh~~ suara angin pun menjadi sahabat karibnya selama sepuluh tahun terakhir ini. Menginjakkan kaki di atas aspal dingin pun telah menjadi tempat terbaiknya setiap hari, dingin yang menyelimuti kakinya telah menjadi terapi untuk pak Tarno.
            Petugas kebersihan jalan, pemulung, tukang sampah, atau apalah itu namanya merupakan pekerjaan pak Tarno selama sepuluh tahun terakhir ini. Pekerjaan yang telah memberinya kehidupan yang serba tidak mencukupi. Pekerjaan ini membuatnya harus tinggal ditempat kumuh dimana lalat dan kecoa menjadi sahabat terbaik bagi pak Tarno dan keluarganya.
            Sampai suatu hari salah seorang anak laki-lakinya yang merupakan anak ke dua dari tiga bersaudara tersebut berkata pada bapaknya,”Bapak, dodo pengen makan ayam”, rayu dodo dengan wajah sedih. Pak Tarno pun merangkul pundak anaknya dan berkata,”Nanti ya tunggu bapak dapet rejeki”. Dengan wajah penuh air mata, dodo bertanya pada pak Tarno “Kapan toh pak dapet rejekinya?? Bulan kemarin yo bilangnya gitu!!”, lalu dodo berlari ke dalam rumah kayu dengan tempelan koran di segala sisinya itu.
            Setelah pembicaaran antara pak Tarno dan Dodo berakhir tiba-tiba juminten, istri pak Tarno berjalan menghampiri pak Tarno. “Dodo tuh capek pak, dia pengen hidup enak kayak temen-temennya!”, sindir juminten dengan ekspresi wajahnya yang ketus. “Ya nanti toh bu, bapak kan lagi usaha ini”, ujar pak Tarno dengan menahan rasa malunya karena belum bisa memberi yang terbaik untuk keluarganya. “Makanya cari pekerjaan yang lain toh pak, jangan jadi tukang bersihin jalan terus!”, seru Juminten pada sang suami. Juminten pun terus mengomel pada pak Tarno.
 bla-bla-bla-bla-bla
             Panjang lebar ia mengomel, pak Tarno pun hanya bisa menutup telinganya rapat-rapat dan berusaha menganggapnya sebagai angin lalu saja.
            Keesokan harinya~~
            Seperti biasa pak Tarno telah bersiap-siap untuk membersihkan jalanan, dan tak lupa ia membawa sapu dan sekop kesayangannya yang telah menjadi sahabat sejatinya selama sepuluh tahun ini. Lagi-lagi dinginnya udara seakan tak mau kalah untuk mengucap selamat pagi dengan pak Tarno, kaos putih tipis yang dipakainya pun telah siap tuk menyambut sang dingin dengan ramah.
            Tetes demi tetes keringatnya pun berjatuhan membasahi pipinya yang kotor terkena sampah dan debu, akhirnya pak Tarno memutuskan untuk beristirahat sejenak. Di bawah pohon yang lebat ia menyandarkan badannya yang telah lemas seperti tak makan selama seminggu, tiba-tiba hembusan angin membawa suatu pemikiran ke dalam kepalanya, “Apa aku cari pekerjaan lain aja ya? Apa pekerjaanku membuat anak-anakku menjadi malu?” Tanya pak Tarno dalam hatinya. Pikiran-pikiran itu membuat pak Tarno terus bertanya-tanya dalam hatinya, apa semua yang ia lakukan selama ini benar? Kenapa ia tak bisa member kehidupan yang layak bagi anak dan istrinya? Apa ada pekerjaan lain yang bisa ia lakukan untuk mendapat uang yang banyak? Pertanyaan pun tak henti-hentinya menghampiri pak Tarno dengan bertubi-tubi.
           Pak Tarno berusaha berpikir dengan keras untuk mendapat jawaban dari pertanyaannya tersebut. Tiba-tiba terlintas dalam pikirannya sebuah pertanyaan baru, “Apa jadinya jalan ini tanpa pembersih jalan?”. Kepalanya semakin berat memikirkan hal-hal tersebut, tanpa disadari ia telah bersandar di pohon palm itu untuk waktu yang cukup lama namun pertanyaannya pun belum juga terjawab.
            “Kalo saya gak bersihin jalan nanti jalanannya kotor, terus kalo jalanan kotor nanti sampahnya menumpuk jadi gunung sampah, trus kalo ada gunung sampah nanti bikin banyak lalat, kalo banyak lalat nanti masyarakat sekitar jadi banyak yang sakit, terus kalo banyak yang sakit nanti saya juga yang salah ya??”, tiba-tiba terlintas spekulasi apa peristiwa yang terjadi jika pak Tarno berhenti dari pekerjaannya sebagai tukang pembersih jalan.
            “Wah~~~ berarti pekerjaan saya itu pentinya ya, sama pentingnya dengan presiden dong”, ujar pak Tarno dengan wajah kagetnya. Setelah memikirkan hal tersebut, pak Tarno pun segera pulang dan member pengertian secara baik kepada keluarganya akan pentingnya pekerjaan yang ia tekuni sekarang, karena setiap hal kecil yang kita lakukan dapat menjadi pengaruh besar bagi orang lain.

 By : Dina Oktarina
Kelompok Spekulatif

 










Tidak ada komentar:

Posting Komentar